You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Desa Gumantar
Desa Gumantar

Kec. Kayangan, Kab. Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat

Air Terjun

Administrator 10 Juli 2026 Dibaca 54 Kali

Air Terjun Desa Gumantar

Desa Gumantar memiliki potensi wisata alam yang menjadi daya tarik utama bagi wisatawan, yaitu kawasan air terjun yang berada di dalam kawasan hutan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Keberadaan air terjun ini tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pelestarian lingkungan dan pengembangan ekowisata berbasis masyarakat.

Air Terjun Tiu Ngumbak dan Air Terjun Tiu Lawean merupakan dua destinasi utama yang telah dikenal sebagai objek wisata alam Desa Gumantar. Selain menikmati panorama air terjun, pengunjung juga dapat merasakan suasana hutan tropis yang masih alami serta melihat bagaimana masyarakat menjaga kelestarian hutan sebagai sumber air bersih dan sumber kehidupan. Pengembangan wisata alam di Desa Gumantar dilakukan dengan tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan agar keindahan alam tetap terjaga bagi generasi mendatang.

Tiu Lawian

   Air_terjun_Lawian_(1) 

Air Terjun Tiu Lawian merupakan salah satu destinasi wisata alam yang berada di kawasan hutan Taman Nasional Gunung Rinjani, Desa Gumantar, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara. Air terjun ini menjadi bagian dari potensi ekowisata Desa Gumantar yang menawarkan suasana alam yang masih asri dengan aliran air yang jernih serta lingkungan hutan yang terjaga.

Air Terjun Tiu Lawian berada di bagian hulu dari Air Terjun Tiu Ngumbak dengan ketinggian sekitar delapan meter. Kawasan ini pernah dimanfaatkan sebagai lokasi kegiatan canyoning, yaitu wisata susur sungai dan rappelling yang menarik minat wisatawan mancanegara. Kegiatan tersebut dipandu oleh Pokdarwis Jagaraganta bekerja sama dengan agen perjalanan, meskipun sejak gempa tahun 2018 aktivitas tersebut belum kembali dibuka.

Nama Tiu Lawian berasal dari kata lawin atau laweang yang berarti jatuh seperti terlempar. Menurut cerita masyarakat, dahulu ada seorang pencari rotan yang beristirahat di sekitar kawasan air terjun. Ketika melanjutkan perjalanan, ia dikejar seekor babi hutan hingga berlari menyusuri tebing. Dalam upaya menyelamatkan diri, orang tersebut terpeleset dan jatuh ke arah air terjun seolah-olah terlempar. Dari peristiwa itulah air terjun ini kemudian dikenal dengan nama Tiu Lawian.

Tiu Gransing

tiu_lawian

Air Terjun Tiu Gransing merupakan salah satu destinasi wisata alam Desa Gumantar yang berada di kawasan hutan dengan suasana yang sejuk dan masih alami. Lokasinya menawarkan perpaduan antara panorama air terjun, vegetasi hutan tropis, dan ketenangan alam yang menjadi daya tarik bagi wisatawan yang menyukai wisata berbasis alam.

Menurut cerita masyarakat, nama Tiu Gransing berkaitan dengan kisah pada masa penjajahan Belanda. Seorang tokoh dari wilayah Amor-Amor yang menjadi incaran penjajah melarikan diri dan menemukan sebuah gua di sekitar kawasan air terjun. Gua tersebut menjadi tempat persembunyian yang aman sehingga ia berhasil menghindari kejaran penjajah. Karena keberadaan gua itu sulit ditemukan, masyarakat kemudian menamai kawasan tersebut Tiu Gransing, yang dikaitkan dengan makna "tidak mudah ditemukan" dalam cerita setempat.

Tiu Ngumbak 

IMG_20230925_082541

Air Terjun Tiu Ngumbak merupakan destinasi wisata alam yang berada di Dusun Beleq, Desa Gumantar. Nama Tiu Ngumbak berasal dari bahasa Sasak, yaitu tiu yang berarti kolam dan ngumbak yang berarti ombak. Nama tersebut menggambarkan derasnya air yang jatuh ke kolam alami sehingga menimbulkan percikan menyerupai ombak kecil.

Perjalanan menuju lokasi memberikan pengalaman tersendiri karena pengunjung akan melewati ladang, hutan bambu, dan perbukitan sebelum tiba di kawasan air terjun. Airnya yang jernih berasal dari mata air pegunungan sekitar Rinjani, sementara kolam alami di bawah air terjun sering dimanfaatkan pengunjung untuk menikmati kesegaran air pegunungan.

Walaupun fasilitas pendukung masih terbatas, kawasan ini dikelola secara sederhana oleh masyarakat bersama Pokdarwis Desa Gumantar dengan dukungan Balai Taman Nasional Gunung Rinjani untuk menjaga kelestarian alam sekaligus mengembangkan wisata berbasis alam dan budaya.